Langsung ke konten utama

Tokoh Pustakawan

Blasius Sudarsono

Blasius Sudarsono, tumbuh di lingkungan pendidik karena orang tuanya adalah guru SD. Beliau lahir di Solo, 2 Februari 1948. Pak Dar kecil sering mengutak-atik barang elektronik. Tak heran ia terobsesi menjadi seorang ilmuwan. Pak Dar kuliah di jurusan fisika murni UGM hingga tingkat sarjana muda (1979) dan mendapat gelar Master of Library Studies dari University of Hawaii, USA (1979). Mengawali karirnya sebagai pustakawan di Pusat Perpustakaan, PDIN (1973) dengan klasifikasi tugas dan analisis subjek, hingga menjadi Kepala PDII-LIPI (1990-2001). 

Blasius Sudarsono, atau Pak Dar (panggilan akrabnya), bukanlah sosok asing dalam dunia kepustakawanan Indonesia. Sebagai seorang Pustakawan Utama LIPI yang telah bekerja hampir 40 tahun, beliau adalah sosok sepuh yang diteladani, digugu dan ditiru. Blasius Sudarsono adalah sang pemerhati kepustakawanan, yang tidak pernah mengenal lelah dalam memikirkan kemajuan bidang perpustakaan. Aktif menulis buku, aktif dalam pertemuan-pertemuan ilmiah dan aktif mengajar di beberapa perguruan tinggi.


Pak Dar yang awalnya berlatarbelakang ilmu fisika ini pun akhirnya tergoda imannya untuk menapaki jalan sunyi dan mendaki di bidang kepustakawanan berkat sosok Luwarsih Pringgoadisurjo. Pak Dar dikenal sebagai tokoh pustakawan yang memiliki permikiran unik. Karya-karya beliau dapat digolongkan dalam dua kolompok; pertama, gaya bahasa normal yang ketika membacanya cukup sekali maka kita dapat memahami maksud apa yang ingin disampaikan. Kedua, gaya bahasa unik, bahkan nyeleneh yang sulit dipahami orang lain. Pemikiran-pcmikiran bcliau yang filsafati ini terkadang memang membutuhkan waktu dan tenaga ekstra untuk memahaminya, KetikH mcmbaca karya-karya pomikiran beliau, kita akan mencmui hal-hal 'tak lazim' dalam pandangannya. 

Ketidak laziman pandangan beliau terlihat pada tulisan pertama tentang Mengapa Kita Berhimpun yang mempertanyakan: ”mengapa setelah 60 tahun perpustakaan tidak berkembang?”, ”Mengapa ilmu perpustakaan tidak berkembang?” Tentu saja pertanyaan ini akan dianggap tidak lazim oleh banyak orang, terutama para pengelola perpustakaan yang mengukur kemajuan perpustakaan dari koleksi dan teknologi yang dimiliki. Padahal yang dimaksud oleh beliau adalah bahwa perpustakaan harus sudah berperan lebih dari sekedar menyediakan jasa peminjaman koleksi dengan bantuan teknologi. Perpustakaan di Indonesia idealnya sudah harus sampai pada peran sebagai pusat himpunan pengetahuan yang ada di masyarakat dan menjadi pusat berhimpunnya anggota komunitas di mana mereka kemudian berdiskusi, bertukar pikiran, memecahkan masalah dan menemukan gagasan baru. Pada saat itu perpustakaan dengan teknologi dan koleksinya, menyediakan semua kebutuhan referensi untuk diskusi tersebut dan merekam hasil diskusinya untuk menjadi pengetahuan baru. (Ini adalah gagasan mutakhir penulis yang hanya sempat diobrolkan, sehingga tidak ada dalam tulisan).


KARYA DAN KEUNIKAN PEMIKIRAN-PEMIKIRAN BLASIUS SUDARSONO (Oleh: M. Ali Nurhasan Islamy, S.Sos) https://digilib.isi-ska.ac.id/?p=579 

Lembaga Pengetahuan Indonesia. http://lipi.go.id/berita/blasius-sudarsono/798


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perangkat Lunak Repository

Perangkat Lunak Repository Repository perguruan tinggi kini menjadi platform penting untuk berbagi organisasi menghasilkan pengetahuan. Repositori perguruan tinggi adalah koleksi digital dari sebuah penelitian kelembagaan dan intelektual Output yang umumnya mengandung dalam bentuk artikel, tesis, disertasi, bab buku dan bentuk audio visual, dll. Untuk membangun Repository perguruan tinggi, berikut hal-hal yang harus diambil ke dalam pertimbangan: Hardware: Server PC, Jaringan internet, dll  Software: OS, software repository yang berbasis open source seperti Dspace, Eprints,  SLiMS, dll Staf terlatih: Skilled Profesional yang dapat menangani instalasi repository perguruan tinggi, mengelola dan pengembangan.  Isi: Theses, disertasi, laporan, bab buku dll  Perpetual Lisensi: Penulis memberikan hak kepada institusi untuk melestarikan dan mendistribusikan mereka bekerja dalam repositori. Ada sejumlah software repository yang telah digunakan oleh sebagaian besar perguruan tinggi di Indones

Sistem Layanan Perpustakaan

Sistem Layanan Perpustakaan Secara umum sistem layanan perpustakaan ada dua macam, yaitu system layanan terbuka ( open acces)  dan sistem layanan tertutup ( closed acces) . Kedua sistem layanan ini memiliki keuntungan dan kelemahannya masing-masing, yang akan kita bahas pada uraian berikut: Sistem Layanan Terbuka ( Open Acces ) Sistem layanan terbuka adalah sistem yang memberikan kebebasan kepada pengunjung untuk memasuki ruangan koleksi perpustakaan, melihat-lihat, membuka-buka, dan mengambil sendiri koleksi yang dibutuhkannya. Sistem layanan terbuka merupakan cara yang dapat membantu pengguna perpustakaan untuk mecari informasi yang dibutuhkan secara langsung ke rak. Pada perpustakaan perguruan tinggi yang melayanai civitas akademika dan koleksi yang banyak biasanaya menggunakan sistem layanan terbuka. Keuntungan menggunakan sistem layanan terbuka, antara lain: Pengunjung dapat melakukan browsing (melihat-lihat koleksi sehinggan mendapatkan pengetahuan yang